Jakarta padat dengan penduduknya, kebanyakan adalah mereka yang datang dari luar daerah Jakarta yang bekerja dan kemudian menetap di Jakarta. Banyak yang bilang kalau sesusah-susahnya hidup di Jakarta, namun masih lebih mendingan dibandingkan hidup di kampung halaman. Ya, ketidakmerataan pembangunan ekonomi Indonesia menjadi alasan para pendatang yang kemudian memutuskan untuk mencari nafkah dan menetap di Jakarta. Hal ini juga yang menjadikan berkembangnya kos-kosan mulai dari yang resmi berijin sampai yang liar bahkan menyerobot tanah negara untuk dijadikan rumah kos. Bahkan banyak pula yang mendirikan bangunan liar untuk dijadikan tempat tinggal, yang penting gratis.
Salah siapa? Bila ditarik ulur salah siapa mungkin tidak habisnya, andai saja program yang dicanangkan oleh Bapak Pembangunan Soeharto yang gencar menggalakkan transmigrasi masih dikembangkan dan dijalankan, mungkin pemerataan ekonomi bisa lebih mungkin tercapai. Andai saja sektor pertanian di-nomorsatukan, mungkin banyak para petani yang tidak perlu mengganti mata pencaharian mereka di kampung halaman. Andai saja program pemberian kredit lebih diperketat, mungkin kepemilikan kendaraan motor roda dua maupun roda empat tidak seluber sekarang ini. Andai saja petugas perangkat kelurahan lebih tegas dalam menertibkan kawasan tempat tinggal, mungkin kawasan kumuh tidak sebanyak sekarang ini. Andai saja jalanan tidak macet dan angkutan umum lebih ramah dan aman, mungkin banyak yang tidak perlu sampai membeli 1 motor untuk 1 anggota keluarga. Andai semua warga Jakarta memiliki pendidikan yang baik dan sikap taat peraturan serta adanya ketegasan para penegak hukum untuk menegakkan hukum dan peraturan, mungkin Jakarta tidak lagi semrawut dan acak-acakan. Masih banyak andai-andai lainnya yang mungkin bisa membawa Jakarta menjadi lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar