Minggu, 27 Desember 2015

17Juta Bawa Pulang Mobil


Menurut data di Polda Metro Jaya, setiap tahunnya jumlah kendaraan bermotor Jakarta meningkat sebesar 12 persen. Jumlah tersebut didominasi oleh pertambahan sepeda motor yang mencapai 4.000 hingga 4.500 per hari. Sedangkan kendaraan roda empat mengalami pertumbuhan sebanyak 1.600 unit per hari.  Jumlah unit kendaraan bermotor hingga akhir 2014 di Jakarta sebanyak 17.523.967 unit yang didominasi oleh kendaraan roda dua dengan jumlah 13.084.372 unit. Diikuti dengan mobil pribadi sebanyak 3.226.009 unit, mobil barang 673.661 unit, bus 362.066 unit, dan kendaraan khusus 137.859 unit. Pertumbuhan kendaraan bermotor tersebut menjadi penyumbang utama kemacetan yang terjadi di Jakarta. Hal itu berbanding terbalik dengan pertumbuhan jalan Jakarta yang hanya 0,01 persen per tahun. 

Dikatakan bahwa salah satu cara mengurai kemacetan di Jakarta adalah pengurangan jumlah kendaraan bermotor seperti three in one untuk kendaraan roda empat, electronic road pricing (ERP), dan pelarangan sepeda motor. Namun, sebaiknya seiring dengan larangan ERP dan sepeda motor, harusnya pemerintah juga membangun sistem moda transportasi yang memadai untuk warga Jakarta. Saya tida berkeberatan untuk pindah dari mengendarai mobil ke bus, sebagai pertimbangan pertama yang dipikirkan adalah keamanan. Kemananan sepanjang perjalanan menuju stasiun dan kembali ke rumah, serta kemanan selama berada di dalam moda transportasi tersebut.

Penjualan kendaraan bermotor yang menurut saya sekarang ini sangat dipermudah, bahkan dengan iklan "DP 17juta dan bisa langsung bawa pulang mobil impian". "Cukup KTP&KK*, Motor langsung dikirim". Semudah itu, segampang itu, dan saya yakin pemberian proses kredit itu tanpa pemeriksaan yang mendetail apakah kelak kita sanggup membayar cicilan kredit. Tidak mengherankan macet bertambah, dan motor seringnya dikendarai oleh anak-anak dibawah umur, maka kesemerawutan Jakarta semakin menjadi-jadi.

Polusi di Jakarta juga semakin mengkhawatirkan, maka saya sangat berharap pemerintah DKI Jakarta bisa lebih mempercepat perbaikan sistem transportasi, dan juga membatasi jumlah pertambahan kendaraan bermotor di Jakarta ini.




Senin, 07 Desember 2015

‌Jakarta padat dengan penduduknya, kebanyakan adalah mereka yang datang dari luar daerah Jakarta yang bekerja dan kemudian menetap di Jakarta. Banyak yang bilang kalau sesusah-susahnya hidup di Jakarta, namun masih lebih mendingan dibandingkan hidup di kampung halaman. Ya, ketidakmerataan pembangunan ekonomi Indonesia menjadi alasan para pendatang yang kemudian memutuskan untuk mencari nafkah dan menetap di Jakarta. Hal ini juga yang menjadikan berkembangnya kos-kosan mulai dari yang resmi berijin sampai yang liar bahkan menyerobot tanah negara untuk dijadikan rumah kos. Bahkan banyak pula yang mendirikan bangunan liar untuk dijadikan tempat tinggal, yang penting gratis.
Salah siapa? Bila ditarik ulur salah siapa mungkin tidak habisnya, andai saja program yang dicanangkan oleh Bapak Pembangunan Soeharto yang gencar menggalakkan transmigrasi masih dikembangkan dan dijalankan, mungkin pemerataan ekonomi bisa lebih mungkin tercapai. Andai saja sektor pertanian di-nomorsatukan, mungkin banyak para petani yang tidak perlu mengganti mata pencaharian mereka di kampung halaman. Andai saja program pemberian kredit lebih diperketat, mungkin kepemilikan kendaraan motor roda dua maupun roda empat tidak seluber sekarang ini. Andai saja petugas perangkat kelurahan lebih tegas dalam menertibkan kawasan tempat tinggal, mungkin kawasan kumuh tidak sebanyak sekarang ini. Andai saja jalanan tidak macet dan angkutan umum lebih ramah dan aman, mungkin banyak yang tidak perlu sampai membeli 1 motor untuk 1 anggota keluarga.  Andai semua warga Jakarta memiliki pendidikan yang baik dan sikap taat peraturan serta adanya ketegasan para penegak hukum untuk menegakkan hukum dan peraturan, mungkin Jakarta tidak lagi semrawut dan acak-acakan. Masih banyak andai-andai lainnya yang mungkin bisa membawa Jakarta menjadi lebih baik.